Views: 0
Sidang Jemaat ke-22 GKI Ebenhaezer Sigerau, Pdt. Lanta Tekankan Program Pelayanan Tepat Sasaran
BINTUNI, inspirasipapua.id — Sidang jemaat bukan sekadar agenda rutin untuk mendengarkan laporan dan menyusun program kerja. Forum ini harus menjadi ruang evaluasi agar pelayanan gereja benar-benar menjawab kebutuhan umat. Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Klasis GKI Teluk Bintuni, Pdt. Johanis Lanta, S.Si, saat membuka Sidang Jemaat ke-22 GKI Ebenhaezer Sigerau di SP 5 Bintuni, Senin (2/11/2026).
Mengusung tema “Kasih Kristus Menggerakkan Kemandirian Gereja Mewujudkan Keadilan, Kedamaian dan Kesejahteraan”, sidang ini melibatkan seluruh unsur jemaat untuk mengevaluasi pelayanan periode sebelumnya dan menetapkan program kerja berikutnya. Hadir dalam pembukaan tersebut Ketua BPPG Klasis GKI Teluk Bintuni Stepanus Balubun, Ketua PSW YPK Titus Kambunandiwan, Ketua Jemaat Pdt. Ivone Bawole, S.Th, serta seluruh majelis jemaat.
Ketua Panitia Rafael Fimbay mengatakan, sejumlah agenda penting akan dibahas, mulai dari laporan pertanggungjawaban pelayanan dan pengelolaan keuangan, evaluasi program, hingga identifikasi tantangan serta kebutuhan jemaat. Hasil pembahasan diharapkan menjadi dasar dalam menetapkan keputusan strategis bagi pertumbuhan pelayanan gereja.
Pdt. Lanta mengingatkan, perjalanan pelayanan tidak selalu mudah. Ada pengorbanan tenaga, pikiran, waktu, materi, bahkan nyawa dalam menjalankan tugas pelayanan. Karena itu, peserta sidang diminta tidak sekadar memperbanyak program, tetapi menentukan prioritas berdasarkan kebutuhan nyata jemaat. “Tidak sedikit air mata yang jatuh, tidak sedikit materi atau harta yang terbuang, tidak sedikit energi fisik terkuras, bahkan tidak sedikit orang yang sakit bahkan meninggal dalam pekerjaan,” ujarnya.
Ia berharap Sidang Jemaat ke-22 menjadi momentum melahirkan keputusan yang tepat, realistis, dan bermanfaat bagi seluruh umat. Sebab, kemandirian gereja bukan diukur dari banyaknya program yang dibuat, melainkan dari kualitas pelayanan dan manfaatnya bagi jemaat. “Sidang ini harus menjadi wadah evaluasi dan perumusan program yang relevan dengan kebutuhan jemaat, sehingga pelayanan gereja semakin mandiri, berkeadilan, damai, dan sejahtera sesuai tema yang diusung,” katanya.
(MA/red/inspirasipapua.id)














